Senin, 09 September 2013

Penyesalan (bagian 8)

Beberapa hari kemudian Sovia sudah diperbolehkan pulang. Ia benar-benar bahagia.Ia seperti terlahir kembali, selain operasi yang berjalan lancar, ia juga mendapatkan perlakuan yang istimewa dari suaminya. Rois memperlakukan bak putri raja. Membuatkannya makan dan bahkan menyuapinya, membopongnya ke kamar mandi jika ia ingin buang air kecil dan membimbingnya keluar rumah untuk bisa menghirup udara pagi yang segar. Tiada hari tanpa perlakuan yang istimewa dari suaminya itu. Mereka seperti sepasang pengantin yang baru menikah.



Hari berganti minggu, minggu pun berganti dengan bulan. Tak terasa sudah setahun beranjak sejak peristiwa operasi itu. Kebahagiaan selalu menyelimuti pasangan ini. Hingga sebuah kabar mengejutkan datang dari Sovia. Ia sedang hamil dan saat ini sudah jalan dua bulan!


Kabar gembira ini dengan cepat menyebar. Seluruh keluarga turut senang atas kehamilan Sovia, tak terkecuali ibunya Rois. Bahkan ia lebih sibuk dibanding Sovia sendiri. Hampir tiap hari ia mampir kerumah Sovia dan sibuk membantu dirumah.


"Kamu jangan terlalu banyak bergerak dan bekerja yang berat-berat," kata ibu mertuanya itu.


"Kehamilan empat bulan pertama sangat rentan, nanti janinnya bisa kenapa-kenapa," lanjut ibu Sovia sambil melirik ke perut Sovia.


Di lain hari, ibu mertuanya sibuk mengingatkan agar ia tidak lupa minum susu dan juga vitamin yang diberikan oleh dokter. Besoknya lagi ibunya mas Rois sibuk menyiapkan menu-menu makanan yang bergizi untuk ibu hamil. Pokoknya begitulah hari-hari yang dijalaninya selama hamil pertama.


Memasuki hamil usia tujuh bulan, Sovia dan ibu mertuanya sibuk berburu baju dan perlengkapan untuk bayi. Sibuk mendekorasi kamar yang nantinya diperuntukkan untuk calon bayinya. Sibuk mencari-cari nama untuk bayinya. Dan seperti biasa, ibu mertuanya sibuk dengan berbagai wejangan.


"Kamu sekarang hamilnya sudah memasuki delapan bulan kan ya? Kamu harus banyak-banyak jalan dan jangan lupa makan kacang ijo, biar persalinannya lancar ntar," ceramah ibu.


Sovia hanya tersenyum, ia sebenarnya sudah tahu banyak tentang apa-apa yang harus dilakukan selama masa kehamilannya karena ia selama ini juga sibuk mencari-cari informasi dengan browsing-browsing di internet dan juga dari teman-temannya. Namun ia menikmati saja perhatian yang diberikan oleh ibu mertuanya itu.


Ia senang ibu mertuanya sangat perhatian padanya dan juga calon cucunya. Terkadang air matanya menetes, teringat akan almarhum ibunya yang sudah tidak ada sejak ia kuliah. Ibunya meninggal karena leukimia yang dideritanya sedangkan sosok seorang ayah hanya ada sedikit dalam ingatannya, ayahnya meninggal ketika ia baru saja menginjak bangku pertama sekolah dasar.


Sejak ibunya tiada, Sovia memilih tinggal bersama tantenya saudara dari ibunya. Sedangkan rumah ibunya dikontrakkan untuk membiayai hidupnya dan juga kuliahnya. Selain itu ibunya juga meninggalkan usaha kos-kosan dan kontrakan yang mana sebelumnya memang dari situlah ibunya selama ini dapat membiayai hidup mereka. Andai ibunya masih hidup, pasti beliau akan berlaku sama seperti ibunya mas Rois.


Cepat-cepat ditepisnya air mata yang mengalir dipipinya. Ia tidak boleh larut dalam kesedihan ini. Biarkanlah ibunya tenang disisiNya, katanya sambil memanjatkan doa. Paling tidak sekarang ada ibunya mertuanya dan juga suaminya yang bisa menemaninya disaat-saat seperti ini.


Sekarang usia kehamilannya tinggal menghitung hari. Suaminya selalu dengan setia menemaninya, jadi suami yang siaga. Ketika tengah malam, tiba-tiba perut Sovia terasa mulas. Ia merintih kesakitan dan membangunkan suaminya. Rois dengan sigap bangun. Ketika mengetahui Sovia kesakitan hendak melahirkan, ia panik. Segera ia membopong istrinya dan mengantarkannya ke rumah sakit.


Sesampai disana suster langsung menangani Sovia. Sedang Rois sibuk mondar mandir diluar. Setelah istrinya diperiksa oleh dokter jaga yang mengatakan bahwa istrinya baru pembukaan dua dan ada kemungkinan baru subuh akan melahirkan, ia pamit pada istrinya dan buru-buru pulang kerumah untuk mengambil tas berisi perlengkapan bayi yang sudah dipersiapkan istrinya jauh-jauh hari.


Ketika ia kembali lagi kerumah sakit, istrinya terlihat sudah tertidur pulas. Namun hanya sebentar, kemudian istrinya terbangun dan meringis kesakitan. Melihat wajah letih istrinya yang kelelahan menahan sakit dan kantuk, Rois meraih tangan istrinya dan menggenggamnya erat, seakan ingin memberikan kekuatan pada istrinya.


Menjelang subuh Sovia sudah tidak mampu lagi menahan sakit. Ia mulai mengerang kesakitan, Rois dengan cepat memanggil suster. Suster pun datang memeriksa dan tak lama kemudian Sovia pun dibawa ke ruang persalinan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar