Rabu, 21 Agustus 2013

Waria Oh Waria...

Pasti sudah pada tahu kan dengan waria. Tapi buat lebih tahu, saya akan menjelaskannya lagi. Waria atau sering juga disebut banci adalah seseorang yang secara lahiriah terlahir sebagai seorang laki-laki atau dengan jenis kelamin laki-laki namun dalam kehidupan sehari-harinya berperilaku seperti seorang wanita bahkan berdandan dan berpakaian layaknya wanita.


Para waria ini umumnya tidak menerima kodrat mereka sebagai seorang pria. Mereka merasa seharusnya mereka terlahir sebagai seorang wanita karena jiwa dan hati mereka adalah wanita. Bahkan untuk mewujudkan keinginan mereka untuk benar-benar terlihat seperti seorang wanita secara utuh, mereka merubah bentuk fisik mereka seperti wanita. Seperti melakukan suntik silikon untuk merubah bentuk payudara mereka, bahkan yang lebih ekstrim lagi adalah mereka berusaha merubah jenis kelamin mereka agar bisa sama dengan wanita.


Nasib waria di Indonesia memang tidak jelas. Namun untuk negeri kita yang masyarakatnya mayoritas menganut agama Islam, menjadi seorang waria dianggap haram.


Di kampung saya sendiri, waria sangat jarang sekali, berbeda dengan di ibukota. Jika terlihat seorang waria melintas di tempat umum, sepertinya seluruh pandangan mata langsung tertuju padanya, tentu saja dengan pandangan yang aneh, termasuk saya sendiri, dulu. Ketika melihat waria, saya seperti melihat sesosok manusia yang langka dan 'ajaib'. Namun di kota besar seperti Jakarta, para waria ternyata lumayan banyak, sehingga mereka membuat komunitas khusus untuk waria. Jadi lama kelamaan saya jadi terbiasa dengan keberadaan waria di sekitar saya.


Imej waria yang dianggap negatif oleh sebagian besar masyarakat kemungkinan besar disebabkan oleh banyaknya waria yang bekerja sebagai wanita penghibur. Namun itu tidak bisa sepenuhnya disalahkan pada para waria tersebut karena kemungkinan mereka kerja sebagai wanita penghibur adalah pilihan terakhir buat mereka untuk menyambung hidup, dan bisa dilihat, tempat atau kantor mana yang mau mempekerjakan seorang waria, yang dianggap tabu, aneh dan bahkan tidak diakui jenis kelaminnya.Tetapi tentu saja tidak semua waria yang mau bekerja sebagai wanita penghibur. Banyak juga diantara mereka yang bekerja sebagai pengamen, buka usaha salon dan ada juga yang bekerja pada sebuah komunitas yang bergerak dibidang sosial.


Terkadang saya suka bertanya-tanya sendiri. Mengapa mereka bisa jadi seperti itu ya? Kenapa mereka yang terlahir sebagai seorang pria bisa punya hati dan perasaan seorang wanita? Apakah mereka tidak bisa dibentuk lagi supaya bisa menjadi lelaki tulen lagi seperti halnya pecandu narkoba yang punya panti rehabilitasi?


Jika ditanya kepada waria ini, ada sebagian kecil yang hatinya berontak dan ingin kembali menjadi lelaki tulen dan berharap ada obat untuk itu. Namun sebagian besar malah merasa senang-senang saja dengan keadaan mereka, dan malah menikmati hidup mereka yang seperti itu, walau untuk pertama kalinya mereka merasa tidak nyaman dengan kondisi mereka dan cibiran dari masyarakat. Namun dengan berjalannya waktu, merekapun jadi terbiasa, tegar dan harus kuat hidup dalam lingkungan masyarakat.


Dan sekarang mereka sedang berjuang untuk hak-hak mereka sebagai manusia,agar keberadaan mereka diakui oleh masyarakat dan negara. Para waria ini mulai sedikit demi sedikit mulai berusaha merubah imej mereka dihadapan masyarakat. Dalam komunitasnya, mereka berusaha mengkoordinir para waria, memberi pelatihan-pelatihan dan kursus-kursus agar para waria bisa hidup lebih mandiri, berguna dan tidak dipandang sebelah mata oleh masyarakat.


Dalam hal ini mereka sudah tunjukkan dengan berbagai penghargaan yang sudah mereka terima. Seperti juara 2 dalam pemilihan putri kebaya. Kegiatan-kegiatan sosial yang sering mereka ikuti sehingga dapat merubah imej mereka dan memberitahukan pada dunia bahwa mereka ada dan juga bisa berguna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar