Jumat, 01 Februari 2013

Percaya, Tapi Jangan Sampai 100%


Mengangkat topik yang sedang hangat-hangatnya berseliweran di blog tentang penipuan yang dilakukan oleh blogger yang bernama Pepi, dan untungnya saya gak kenal, karena saya masih tergolong baru dalam dunia blog. Maka saya pun merasa perlu berbagi cerita mengenainya.
Mengenai tipu menipu ini sepertinya dikarenakan oleh banyak hal. Ada orang yang menipu karena hobi dan kesenangan baginya, ada juga yang karena kebutuhan materi sehingga akhirnya dia melakukan penipuan, dan ada juga karena suatu penyakit seperti kleptomania gitu, yang emang susah untuk dihilangkan.

Saya sendiri selama ini belum pernah merasa kena tipu dan mudah-mudahan jangan sampai kena deh! Tapi kalo kecopetan dan barang raib sih pernah. Eeh..setelah dipikir-pikir pernah deh. Itu, kemakan iklan salah satu provider telco, yang katanya diiklan kalo kita mau nelpon cuma Rp 1/mnt, yang ternyata cuma berlaku untuk menit pertama doang, di menit selanjutnya malah sama aja, mihil. Tapi itu sudah lama banget. Sekarang karena persaingan yang sangat ketat, provider telco di Indonesia akhirnya berlomba-lomba untuk pasang tarif paling murah, untuk menarik konsumen sebanyak-banyak *hurraaaiii, konsumen jadi untung, asal jangan kualitas dan pelayanan jadi menurun ya.

Mengenai penipuan ini, adik saya pernah hampir kena tipu oleh temannya sendiri. Adik saya ini ngekos karena tempat kerjanya sangat jauh dari rumah ortu. yaitu di salah satu rumah sakit pemerintah daerah. Di sana ia mendapatkan banyak teman, dan salah satunya yang rajin sekali main ke kosan dia tuh adalah sebut aja namanya Ega. Ega adalah penduduk asli kota itu, tinggal bersama dengan ortunya, dan dia bekerja sebagai karyawan outsourching di PT. PLN. Anaknya sangat supel, ceria, dan ramah. Ketika saya berkunjung kekosan adik saya, kebetulan Ega juga ada di sana. Dia menawari saya untuk keliling kota dengan motornya. Pokoknya anaknya baik deh menurut saya. Sampai suatu hari adik saya curhat kalau Ega pernah meminjam uang padanya, dan hingga hari itu belum dibayar juga. Nilainya tidak seberapa sih, namun cukup untuk membayar uang kosan adik saya selama sebulan.

Adik saya gak terlalu suka menagih-nagih utang sama temannya. Dia lebih suka temannya itu dengan sadar diri membayar sendiri utang tanpa harus dia tagih. Sudah sebulan sejak Ega meminjam uangnya, sampai akhirnya adik saya mulai mendengar cerita tak sedap mengenai Ega, bahwa dia suka meminjam uang ke teman-teman lainnya, tanpa pernah membayar utangnya. Bahkan di koperasi pun dia berutang. Yang membuat adik saya yakin lagi dengan cerita itu adalah ketika ibu kosnya menghampirinya, waktu itu ia baru saja pulang dari kerja. Ibu kos menanyakan apakah Ega masih rajin datang kekosan adikku. Ibu kos bilang kalau beberapa bulan yang lalu Ega meminjam sejumlah uang padanya. Karena merasa sudah terlalu lama, ibu kos bermaksud menagihnya. Namun ketika dia sms, nggak ada balasan dari Ega, ditelpon juga nggak diangkat. "Sudah sering saya sms dia, tapi gak pernah dibalas, saya lagi perlu uangnya," kata ibu kos. Ibu kos akhirnya menitipkan pesan sama adikku agar memberitahu Ega mengenai hal itu.

Adikku pun teringat uangnya yang dipinjam sama Ega. Maka ketika Ega datang main kekosan, adikku pun meminta uang yang dipinjam Ega dulu, dengan alasan untuk membayar uang kos. Ega yang kebetulan lagi buka dompet untuk mengambil uang buat beli bakso pun tidak dapat mengelak, karena adikku melihat sejumlah besar uang dalam dompetnya. Uang adikku pun akhirnya selamat. Beberapa hari setelah itu barulah adikku menyampaikan pesan dari ibu kos. Ketika adikku menyampaikan pesan dari ibu kos itu, Ega langsung terdiam, raut muka Ega langsung berubah, entah malu, entah nggak senang.

Sejak itu Ega mulai jarang datang kekosan, sampai akhirnya adikku mendengar kabar kalau Ega tuh sering ditagih-tagih utang sama orang-orang. Dia akhirnya berhenti kerja dan pindah ke kota lain.

Kalau dipikir-pikir buat apa dia minjam-minjam uang sama teman-temannya padahal dia punya pekerjaan dengan gaji yang lumayan. Dia bukan termasuk gadis yang suka berjudi, dia juga tidak menanggung hidup keluarganya, karena dia anak tunggal dan ortunya sendiri bekerja. Sepertinya meminjam tanpa membayar itu sudah merupakan kebiasaan yang menyenangkan baginya. Entahlah.

Belum lagi cerita mengenai tetangga saya yang suka sekali ngutang sama tukang sayur, suka telat bayar arisan, padahal dia tergolong mampu secara ekonomi. Cerita-cerita begini termasuk penipuan nggak sih? Hehe... Cerita mengenai penipuan yang sering terjadi di media sosial, online shopping yang menawarkan harga yang lebih murah dari harga pasaran, pastilah amat menggiurkan. Mereka benar-benar niat nipunya dan memberlakukan berbagai cara untuk menggoda konsumen, mencuri konsumen dari online shop lain. Bahkan yang sekarang terjadi, mereka berani meng-hack salah satu akun dari daftar teman kita, dengan menggunakan nama teman kita itu. Sehingga kita merasa seolah-olah yang berjualan itu adalah teman kita. Jadi kita mesti ekstra hati-hati ya! Tapi walaupun begitu, kita tidak mesti menghakimi bahwa semua online shop itu menipu, banyak juga online shop yang jujur kok.

Intinya, kita bisa berteman dengan siapa saja, tanpa pilah pilih, tapi ada baiknya jangan sampai percaya 100%. Kalau kita merasa dia mulai mengganggu kehidupan kita, blacklist saja! *eh, gimana XD


Tidak ada komentar:

Posting Komentar